Friday, July 22, 2016

Suami Idaman.

Assalamualaikum. Wah, sudah lama sekali aku ngga nulis blog. Masih membiasakan diri dengan kehidupan ibu rumah tangga yang ternyata lumayan menguras waktu dan mendewasakan diri juga. Mulai dari blog ini sepertinya aku akan membiasakan gaya nulis "sesuai mood" saja. Kalau lagi bijak ya gaya nulisnya ikutan bijak. Kalau lagi mellow ya jadi mellow juga. Kalau lagi abstrak ya jadi abstrak juga.

WARNING!!! Blogpost ini buat yang udah nikah aja ya, takutnya yang belum nikah jadi baper!

Ngomong-ngomong soal ibu rumah tangga, aku baru mengerti kenapa banyak stay-at-home-mom (baik itu yang sambil kerja atau bisnis atau cuma pure urus rumah tangga) seneng banget sama yang namanya drama korea, jepang, komik komik cinta-cintaan dan sebagainya. Well, ditengah keribetan kita mengurus rumah dan beraktualisasi diri, di satu sisi kita juga dituntut untuk tetap menimbulkan sparks of love agar tetap mesra bersama suami. Guess what, susah buibu! Jangankan mesra-mesraan. Kayaknya dapet waktu berduaan saja susah. Sekalinya dapat, omongannya balik lagi balik lagi ke si anak. Tapi bukan berarti ngga bisa.

Kebetulan kemarin aku baru saja kerajingan baca manga Kimi Ni Todoke sampai nonton Live Action sama anime nya segala di YouTube. Ceritanya tentang anak SMA penyendiri yang ditaksir sama lelaki idola. Klasik sih sebenernya. Tapi entah kenapa ketika baca ini aku jadi kangen suami. Padahal aku ngga satu SMA sama suami. But somehow I miss him when I read this. Rasanya pengen baca ini komik sambil dipelukin suami biar ngga kangen-kangen segala.

Entah kenapa ya ini komik bikin aku jadi mikir. Kazehaya-kun baik banget sama Sawako, hanya saja komunikasi diantara mereka sepertinya kurang. Padahal masing-masing pengen yang terbaik buat pasangannya cuma kadang caranya salah. Well, the ugly truth pasti yang baca ini juga sering banget ngalamin yang namanya miscommunication. Entah sama pasangan, teman, keluarga, orangtua, atau bahkan stranger sekalipun. Maksud hati ngomong apa, ditangkapnya apa sama lawan bicara.

Miskomunikasi ini juga yang sering bikin kita ngerasa suami ngga perhatian, suami ngeselin, suami ngga ada usaha, blablabla. Aku coba tanya deh sama kalian:

Menurut kalian, suami idaman tuh kayak apa sih?

Menurut opini aku pribadi, jawabannya kebanyakan pasti ngga jauh-jauh dari :
1. Ganteng / Rapi (walau ada ungkapan Don't Judge Book by Its Cover, orang yang mau ngeluarin buku pasti covernya didesain sedemikian rupa agar cover tersebut merepresentasikan isi buku baik sebagian maupun keseluruhan. Iya kan? Itu bukti bahwa first impression atau looks itu juga penting)
2. Baik (wanita mana yang ngga luluh sama lelaki baik?)
3. Romantis (tiap hari dikasih bunga, dielus rambutnya, dipeluk saat kita down, suka ngasih kata-kata cinta)
4. Tajir (mau makan, belanja tinggal pilih, kurang enak apa coba?)

Yah begitulah, namanya manusia pasti pinginnya yang sempurna. Kita ingin suami kita jadi suami sempurna. Pertanyaannya, kita sendiri udah jadi istri idaman belum? Para suami juga pasti pengen punya istri cantik, baik, penyayang, romantis, jujur, ikhlas sama rejeki suami, sayang anak, pintar cari duit, pandai menjaga harta suami, setia, rendah hati, dan masih panjaaaaang listnya. Jadi menurut aku, dibanding kita sibuk menginginkan suami kita jadi seperti yang kita mau, yuk kita list aja kelebihan-kelebihan suami yang patut kita syukuri. You know why, karena manusia lebih gampang melupakan kebaikan orang lain dibanding keburukan orang tersebut. Itulah mengapa sampai ada ungkapan
"Tulislah kebaikan orang lain diatas batu, dan keburukannya diatas air"
 Kalau ngga percaya, coba kalian ingat-ingat semua kebaikan orang-orang disekitar kalian. Literally semuanya ya. Pasti akan ada yang kelewat kan? Sedangkan coba ingat keburukan orang disekitar kalian. Wih pasti hafal diluar kepala rasanya. Oke back to topic. Time to make a list! Ini contoh aku ambil dari kebaikan suamiku sendiri:

  • Suamiku suami idaman karena ia menjadikan aku menteri keuangan di keluarga kecil kami dan aku bebas untuk menggunakan hartanya selama masih dalam batas kewajaran dan tentu setelah mendapat ijin darinya.
  • Suamiku suami idaman karena ia tidak pernah kasar atau main tangan terhadapku seberapa besarpun amarahnya.
  • Suamiku suami idaman karena ia mau mendengarkan keluh kesah ku bahkan untuk hal-hal paling remeh seperti pampers yang beda seribu dua ribu di supermarket A dan B. 
  • Suamiku suami idaman karena ia mau mendengarkan dan menghargai pendapatku sebagai teman hidupnya, dimana untuk hal-hal penting ia akan bertanya menurutku bagaimana baiknya.
  • Suamiku suami idaman karena ia mencoba untuk menyayangiku sebagaimana aku apa adanya namun ia memberiku ruang untuk berkembang dengan memberi masukan masukan positif.
  • Suamiku suami idaman karena ia membebaskanku untuk memilih apa saja yang ingin kucoba dan kuusahakan dalam hidup.
  • Suamiku suami idaman karena ia tidak malu untuk membeli sayur dan mencoba memasakkan makanan untukku.
  • Suamiku suami idaman karena ia selalu berusaha ikut saat visit dokter, bahkan sejak anak kami masih dalam kandungan. 
  • Suamiku suami idaman karena ia mau memijatku sebelum tidur ketika kehamilanku memasuki trimester akhir dan untuk tidur pun susah sekali mencari posisi nyaman.
  • Suamiku suami idaman karena ia membiarkanku memilih nama yang terbaik untuk anak kami, walau pada akhirnya aku hanya menjatuhkan pilihan pada satu nama dan sisanya ia yang melengkapi. 
  • Suamiku suami idaman karena ia mau menyuapiku dan membuatkanku teh hangat disaat keinginan untuk makanku menghilang lenyap ditelan mual yang teramat sangat ketika aku mengandung buah hati kami. 
  • Suamiku suami idaman karena ia mendampingiku saat melahirkan, tanpa rasa takut, dengan hati teguh yang tercermin dari mata dan perilakunya, ia bimbing aku untuk kuat menahan sakitnya induksi yang teramat sangat, yang hampir meruntuhkan ego ku hingga tersirat keinginan untuk c-section saja.
  • Suamiku suami idaman karena ia bersemangat untuk belajar mengenai dunia parenting yang benar-benar baru untuk kami berdua.
  • Suamiku suami idaman karena ia mau terjaga sepanjang malam karena ia ingin aku dapat beristirahat.
  • Suamiku suami idaman karena ia tak sungkan untuk mengganti popok anak kami juga memandikannya tanpa rasa takut maupun jijik.
  • Suamiku suami idaman karena ia mau menuruti kemauanku untuk strict asi tanpa sufor minimal hingga umur 1 tahun. 
  • Suamiku suami idaman karena ia mau masak MPASI tanpa gulgar untuk anak kami.
  • Suamiku suami idaman karena ia mau belajar untuk massage dan baby gym untuk bayi.
  • Suamiku suami idaman karena ia mau menemaniku mengikuti seminar, kelas edukasi dan sebagainya tanpa mengeluh.
  • Suamiku suami idaman karena ia mau mengajak anak kami bermain sambil menyuapinya walau ia lelah sehabis pulang kerja.
  • Suamiku suami idaman karena ia bisa menjadi ayah yang terbaik untuk anak kami,
  • Suamiku suami idaman karena ia selalu berusaha memenuhi keinginanku jika ia bisa. 
  • Suamiku suami idaman karena ia tahu bahwa ibu rumah tangga pun butuh me time dan ia pun berusaha memberikannya padaku walau tahu bahwa itu akan memotong waktunya sendiri karena harus menjaga dan merawat anak kami.
  • Suamiku suami idaman karena ia tahu bahwa ibu rumah tangga hanya butuh didengarkan, diajak berbicara, setelah seharian lelah mengurus rumah walau sebenarnya ia pun sudah lelah bekerja dan jalan pulang dari kantornya yang cukup jauh.
  • Suamiku suami idaman karena ia mau mencuci baju kami dan melipatnya disaat istrinya ini tidak bisa.
  • Suamiku suami idaman karena ia selalu optimis ketika aku merasa tidak mungkin, ia selalu mengingatkan ada Allah Yang Maha Besar dan Allah memiliki kuasa atas segalanya. 
  • Suamiku suami idaman karena ia mau menggendong anak kami yang berat jauh-jauh ke masjid untuk sholat berjamaah.
  • Suamiku suami idaman karena ia membuatku selalu ingin lebih dekat kepadaNya.
  • Suamiku suami idaman karena ia bisa membuatku berusaha menghafalkan Quran dan mengikuti kajian.
  • Suamiku suami idaman karena ia rutin membaca Quran dan murojaah hafalannya. 
  • Suamiku suami idaman karena ia rajin ikut kajian dan datang ke majlis-majlis ilmu.
  • Suamiku suami idaman karena ia bertekad untuk jadi hafidz agar aku dan anak anak kami kelak akan jadi hafidz&hafidzah juga.
  • Suamiku suami idaman karena bersamanya, aku merasa aku bisa meraih surgaNya bersama sekeluarga.
  • Suamiku suami idaman karena bersamanya, aku merasa dicintai.

Waw, panjang juga ternyata. Ngga disangka ternyata suamiku banyak sekali kelebihannya. Buat ibu ibu yang mikir "kok suamiku ngga begini, nih suami dia aja bisa?" coba deh bikin list dulu sendiri. Sambil dipikirin dari awal kebaikan apa saja yang pernah suami lakukan ke sang istri. Karena aku pun baru sadar listnya sepanjang ini setelah aku selesai nulis. Dan akhirnya makin bersyukur. Jadi ingat quotes nya film Tausiyah Cinta yang ini:
"Karena cinta itu ditumbuhkan, bukan dicari."
Ini jadi pengen aku ubah sedikit kata-katanya jadi begini:
"Karena bahagia itu diciptakan, bukan dicari."


- Miranty Lestari -
- 23/7/2016 -
- Jakarta -

Sunday, July 3, 2016

Ramadhan yang tak kumenangkan.

29 Ramadhan 1437.

Tidak terasa, bulan Ramadhan sudah memasuki hari ke 29. Sebentar lagi Ramadhan, sang bulan penuh rahmat itu akan pergi.

Berapa banyak penyesalan yang kita rasakan?
Berapa kali kita khatamkan Quran?
Berapa kali kita laksanakan shalat tarawih yang hanya ada dibulan Ramadhan?
Berapa kali kita tergerak untuk melaksanakan shalat-shalat sunnah?
Berapa banyak kesempatan sedekah untuk yang kita lewatkan hanya karena ada 'kebutuhan' yg belum terpenuhi seperti baju lebaran?
Berapa banyak rencana ibadah sunnah yang mungkin kita tidak pernah lakukan dibulan bulan lain namun kita canangkan di bulan Ramadhan yang akhirnya tak terealisasi?
Seberapa jauh langkah yang kita tempuh untuk mencapai masjid demi melaksanakan sholat berjamaah?

Atau bahkan ibadah wajib itu sendiri.
Sudah full kah sholat dan puasa kita? Atau masih bolong-bolong?
Sudah kita jagakah hati, mata dan telinga kita selama puasa? Atau masih kita gunakan untuk menggunjingkan orang lain, masih kita gunakan untuk hal-hal tak bermanfaat?

Ataukah kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi kita?
Sibuk mempersiapkan bukber dengan teman sd, smp, sma, kuliah, kerja, kolega dengan dalih silaturahmi.
Sibuk mempersiapkan baju lebaran, kue lebaran.
Sibuk berburu diskonan.
Sibuk dengan dunia.

Apa sebenarnya makna dari Ramadhan itu sendiri?
Bukankah Allah menjanjikan pahala yang berlipat untuk amalan-amalan yang dilakukan saat Ramadhan?
Lalu kenapa fokus kita malah untuk bukber? Untuk beli baju lebaran?
Kenapa fokus kita malah kedunia yang tidak memberikan kita pahala berlipat?
Bukankah dunia tersebut masih bisa kita kejar pada 11 bulan lainnya?
Kenapa harus saat Ramadhan?

Teringat lirik lagu dari penyanyi kenamaan
"Terlambat kusadari, kau teramat berarti. Terlambat tuk kembali dan tuk menanti kesempatan kedua yang takkan mungkin pernah ada".

Ya. Jika kesempatan untuk bertemu Ramadhan tidak Allah berikan lagi. Sudah puaskah kita dengan amalan Ramadhan kita kali ini? Akankah kita bahagia ketika menghadapNya mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita?

Ramadhan akan pergi. Itu pasti.
Kita juga akan mati. Itu pasti.
Maka jadikanlah Ramadhan mu lebih bermakna dengan mempersiapkannya jauh-jauh hari.
Jika engkau telah gagal di Ramadhan kali ini, bertobatlah.
Dan buatlah planning untuk Ramadhan tahun depan. Mulai sekarang.

Walau Ramadhan kali ini tak kita menangkan, kita masih punya 11 bulan untuk mempersiapkan Ramadhan yang akan datang.
11 bulan kedepan kita bisa memperbanyak shalat sunnah. Tahajjud, dhuha, ba'diyah, qobliyah, hajat, taubat.
11 bulan kedepan kita bisa memperbanyak tilawah dan mentadabburi alquran. Walau hanya 1 halaman sehari. Atau bahkan 1 ayat sehari.
11 bulan kedepan kita bisa memperbanyak sedekah. Pintu sedekah selalu terbuka dari segala arah.
11 bulan kedepan kita bisa memperbanyak ikut kajian, majlis taqlim, liqo, seminar, workshop. Apapun yang mendekatkan kita pada Allah dan agamaNya.
11 bulan kedepan adalah waktu yang panjang untuk membangun kebiasaan baik, hingga ketika Ramadhan itu datang lagi (insya Allah), kita sudah terbiasa melakukan amalan amalan baik.
Hingga ketika Ramadhan itu datang lagi, kita bisa benar benar mendapatkan kemenangan sejati.